All Posts By

DAMKAR Kab. Sukabumi

Tingkatkan Sumber Daya Aparatur, Pos IV Sektor Palabuhanratu Damkar Kabupaten Sukabumi Lakukan Latihan

By | Berita | No Comments

Dalam rangka peningkatan sumber daya aparatur pemadam kebakaran, anggota pemadam Pos IV Sektor Palabuhanratu melakukan latihan pemadaman kebakaran dan keselamatan (Rescue) dihalaman GOR Palabuhanratu pada kamis (1/02/2018).

Pelatihan menggunakan APAR

Kepala Bidang Pencegahan dan Pelatihan Deni Mulyadi mengatakan bahwa anggota pemadam kebakaran harus mempunyai ketangguhan, keberanian dan professionalisme.

“Kita ini (pemadam kebakaran) adalah satu kesatuan dalam melaksanakan tugas, petugas damkar haruslah tangguh, berani dan professional.” Kata Deni disela-sela kesibukan nya.

Latihan Kekompakan Aparatur Damkar

Deni pun menambahkan bahwa latihan ini akan dilakukan disemua posko dari Pos I sampai Pos VIII agar petugas damkar lebih cekatan.

Latihan Kekompakan Aparatur Damkar

Pelatihan tersebut dimulai dari pemadaman api menggunakan Alat Pemadam Api Tradisional (APAT), lalu dilanjutkan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), setelah itu latihan kekompakan anggota dalam menggunakan mobil Unit Damkar untuk pemadaman kebakaran. Setelah itu dilanjutkan pelatihan Rescue di Mako Damkar Kabupaten Sukabumi.

Sementara Kepala Seksi Pencegahan yang akrab disapa Vikry  mengatakan peningkatan keterampilan pemadam kebakaran harus dilakukan secara terus menerus dan kontinyu, tidak terbatas hanya pada diklat-diklat resmi, Keterampilan  harus diasah setiap hari sesuai dengan jiwa korsa pemadam kebakaran.

Latihan Rescue di Mako Damkar Kab. Sukabumi

“Sesuai dengan Mars Pemadam Kebakaran, tidak ada pemadam kebakaran yang hebat, yang ada petugas Pemadam Kebakaran yang terlatih”, tambah Vikry.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Andi Kusnadi disela-sela padat nya kegiatan mengatakan bahwa dalam rangka peningkatan professionalisme, dilaksanakan pelatihan Fisik, Mental, dan Disiplin (FMD) secara rutin.

“Jadilah Petugas Damkar yang professional atau Tidak sama sekali, kalau tidak professional lebih baik diam.”, Ujar Andi.

Percepat Pelayanan, Pos Pemadam Kebakaran VIII Sektor Jampang Kulon Mulai Beroperasi

By | Berita | No Comments

Dalam rangka percepatan pelayanan penanggulangan kebakaran kepada masyarakat di wilayah jampangkulon, di awal tahun 2018 Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukabumi telah mengoperasikan Posko VIII sektor Jampangkulon. Sebanyak 8 personil yang terbagi menjadi 2 regu sudah mulai bertugas di Po Pemadam Kebakaran yang pembangunan selesai pada bulan Desember 2017 lalu.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Sarana Prasarana Arianja Hasbulwafi, S.T. mengatakan bahwa Posko VIII sektor Jampangkulon tersebut sangat diperlukan dalam rangka percepatan penanggulangan kebakaran dan Penyelamatan bencana lainnya karena selama ini wilayah tersebut termasuk daerah yang belum terlindungi (diluar Wilayah Manajemen Kebakaran).

“sebelum adanya Posko VIII sektor Jampangkulon, jika terjadi kebakaran diwilayah Kecamatan Jampangkulon masih mengandalkan anggota kami dari Posko V sektor Surade, ini menjadi masalah ketika tempat kejadian kebakaran diluar WMK posko V sektor Surade, penanggulangan menjadi lambat karena jarak tempuh yang cukup jauh”, ujarnya.

Petugas Pemadam Kebakaran selalu siap siaga

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Ari ini menambahkan bahwa beroperasinya Posko VIII sektor Jampang Kulon merupakan capaian kinerja Dinas Pemadam Kebakaran tahun 2017 dalam pengembangan Wilayah Manajemen Kebakaran.

Ditempat terpisah Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Drs. H. Andi Kusnadi, M.Pd disela-sela kesibukannya mengatakan dengan bertambahnya Wilayah Manjemen Kebakaran (WMK) diharapkan dapat meningkatkan kecepatan waktu tanggap penanganan kebakaran.

“standar pelayanan minimal kami untuk waktu tanggap penanggulangan kebakaran adalah 15 menit dengan jarak radius 7,5 KM dari pos terdekat ke tempat kejadian, mudah-mudahan dengan adanya posko baru ini dapat meningkatkan pelayanan kami kepada masyarakat”, tegasnya.

Posko Baru Selesai Dibangun, Damkar Kabupaten Sukabumi Gelar Syukuran

By | Berita | No Comments

Dinas Pemadam Kebakaran mengadakan syukuran selesainya pembangunan Posko VIII Jampang Kulon, kec. Jampang kulon pada hari rabu (17/1/2018).

Kasubag Umum & kepegawaian Deny Kusnadi yang membuka acara tersebut mengatakan syukuran tersebut dalam rangka peresmian secara internal Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukabumi.

Deny Kusnadi (Kasubag Umum & Kepegawaian) Saat Membuka Acara Syukuran di Posko VIII Sektor Jampang Kulon

“ini semata-mata pembukaan secara internal bahwa posko jampang kulon ini sudah bisa digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat “, terang Deny dalam pembukaan nya.

Sementara itu Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Andy Kusnadi dalam sambutannya mengatakan bahwa peresmian posko pemadam kebakaran yang baru ini sebagai ungkapan rasa bahagia tercapainya program Dinas Pemadam Kebakaran dalam memperluas Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) untuk mempercepat pelayanan penanggulangan kebakaran di wilayah jampangkulon dan sekitarnya.

Drs. H. Andi kusnadi, M.Pd memberikan Sambutan diacara Syukuran Posko VIII Sektor Jampang Kulon

Posko VIII sektor Jampang Kulon untuk sementara diisi oleh 8 personel yang dibagi menjadi dua regu dan bertugas secara bergantian yang satu shift nya 3 hari, ini dilakukan karena Dinas Pemadam Kebakaran Masih Kekurangan Personil. Sementara itu Mobil Pemadam Kebakaran yang tersedia baru satu unit yang diambil dari Posko III Sektor Cicurug.

Lebih lanjut Andi menjelaskan pembangunan pos pemadam kebakaran merupakan antisipasi positif Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam menyediakan sebuah pelayanan prima bagi warganya, khususnya di bidang layanan terhadap bahaya kebakaran yang meliputi pencegahan, penanggulangan kebakaran, dan penyelamatan bencana lainnya. Rencananya posko baru ini akan diresmikan oleh Bupati Sukabumi bersamaan dengan HUT Damkar yang ke-99 pada bulan Maret nanti. “Kalau tidak ada halangan mudah-mudahan beliau berkenan meresmikan bangunan baru ini pada saat peringatan HUT Damkar yang ke 99.” tegasnya.

TAHAPAN KEBAKARAN DALAM RUANGAN

By | Pengetahuan | No Comments

Pada umumnya kebakaran dalam ruangan terbagi dalam tiga tahapan. Masing-masing tahapan memiliki ciri-ciri karaktersitik dan efeknya berhubungan dengan bahan yang terbakar yang berbeda-beda. Lama dari masing-masing tahapan bervariasi tergantung keadaan dari penyulutan, bahan bakar, dan ventilasi, akan tetapi secara keseluruhan tahapannya adalah kebakaran awal kebakaran bebas kebakaran menyurut.

A. Kebakaran Tahap Awal Ini adalah tahapan awal dari suatu kebakaran setelah terjadi penyulutan.
Nyala api masih terbatas dan pembakaran dengan lidah api terlihat. Konsntrasi Oksigen dalam ruangan masih dalam kondisi normal (21%) dan temperatur dalam ruangan secara keseluruhan belum meningkat. Gas panas hasil pembakaran dalam betuk kepulan bergerak naik dari titik nyala. Dalam kepulan gas panas terkandung bermacam-macam material seperti deposit karbon (jelaga) ataupun padatan lain, uap air, H2S, CO2, CO, dan gas beracun lainnya,semuanya tergantung dari jenis bahan bakar atau bahan yang terbakar. Panas akan dihantar secara konveksi oleh material-material tadi ke atas ruangan dan mendorong oksigen kebawah yang berarti ke titik nyala untuk mendukung pembakaran selanjutnya.

B. Tahap Penyalaan-bebas
Kebakaran akan menghebat sejalan dengan bertambahnya bahan yang terbakar. Konveksi, konduksi, dan kontak langsung memperluas perambatan api dan keluar dari bahan bahakar awal sampai bahan didekatnya mencapai temperatur penyalaannya dan mulai terbakar. Radiasi panas dari nyala api mulai menyebabkan bahan bahan lain mencapai titik nyalanya, memperluas kebakaran kesamping. Kecepatan perluasan kebakaran kesamping tergantung dari berapa dekat bahan di dekatnya dan juga susunan bahannya. Gas panas yang dihasilkan pembakaran berkumpul di langit-langit ruangan membentuklapisan asap. Temperatur dari lapisan asp ini meningkat. Lapisan yang lebih tinggi di ruangan tersebut memiliki konsentrasi oksigen paling rendah; temperatur tinggi; dan jelaga, asap, dan produk pirolisis yang belum terbakar sempurna pada saat itu sangatlah berbeda dengan kondisi di dekat lantai ruangan. Pada daerah dekat lantai lapisan udaranya masih relatif dingin dan mengandung udara segar (konsentrasi oksigen mendekati normal) yang bercampur dengan hasil pembakaran. Kemungkinan untuk hidup masih cukup di dalam ruangan apabila seseorang bertahan pada posisi merendah pada lapisan dingin dan tidak menghirup gas di bagian atas. Ketika lapisan panas mencapai titik kritisnya pada + 600oC (1100oF), ini sudah cukup untuk menghasilkan radiasi panas yang menyebabkan bahan bakar lainnya (seperti karpet dan furnitur) di dalam ruang mencapai titik nyalanya. Pada saat ini seisi ruangan akan menyala secara serentak, dan ruangan dikatakan mengalami flashover. Saat ini terjadi, temperatur seluruh ruangan mencapai titik maksimalnya dan kemungkinan hidup dalam berada di dalam ruangan ini untuk lebih dari beberapa detik sangat tidak mungkin. Flashover oleh ahli ilmu kebakaran didefinisikan sebagai proses pengembangan, radiasi, dan pembakaran lengkap dari semua bahan bakar dalam suatu ruangan.
Api/kebakaran adalah suatu aksi kesetimbangan kimia antara bahan bakar, udara, dan temperatur (bahan bakar oksigen – panas). Apabila ventilasi terbatas, pertumbuhan api
akan lambat, peningkatan temperatur akan lebih bertahap, asap akan dihasilkan lebih banyak, dan penyalaan gas panas akan tertunda sampai didapat tambahan udara (oksigen) yang cukup.

C. Tahap Api Mengecil
Akhirnya, bahan bakar habis dan nyala api secara bertahap akan berkurang dan berkurang. Apabila konsentrasi oksigen dibawah 16%, nyala api dari pembakaran akan berhenti meskipun masih terdapat bahan bakar yang belum terbakar. Pembakaran yang terjadi adalah pembakaran tanpa nyala api. Temperatur masih tinggi di dalam ruangan, tergantung dari bahan penyekat dan ventilasi dari ruangan tersebut. Beberapa bahan masih mengalami pirolisis atau terbakar tidak sempurna menghasilkan gas karbon monoksida dan gas bahan bakar lain, jelaga, dan bahan bakar lain yang terkandung dalam asap. Apabila ruangan tidak memiliki ventilasi yang cukup, maka akan terbentuk campuran gas yang dapat terbakar. Maka apabila ada sumber penyalaan yang baru, akan dapat terjadi kebakaran kedua diruangan tersebut, sering disebut backdraft atau ledakan asap.

Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

By | Pengetahuan | No Comments

Pengertian  APAR (Alat Pemadam Api Ringan)  adalah  Alat pemadaman yang bisa dibawa / dijinjing dan gunakan / dioperasikan oleh satu orang dan berdiri sendiri, mempunyai berat antara 0,5kg sampai dengan 16 kg Apar merupakan alat pemadam api yang pemakaiannya dilakukan secara manual dan diarahkan dengan cara menyapu dari titik terluar menuju titik terdalam dimana api berada. Apar dikenal sebagai alat pemadam api portable yang mudah dibawa, cepat dan tepat di dalam penggunaan untuk awal kebakaran, selain itu karena bentuknya yang portable dan ringan sehingga mudah mendekati daerah kebakaran. Dikarenakan fungsinya untuk penanganan dini, peletakan APAR-pun harus ditempatkan di tempat-tempat tertentu dan mudah terlihat sehingga memudahkan didalam penggunaannya.

Fungsi / kegunaan APAR :

Untuk mencegah dan memadamkan kebakaran yang masih kecil.

Pemasangan dan penempatan APAR :

  • Setiap APAR dipasang pada posisi yang mudah dilihat dan dijangkau dan tidak boleh terhalangi benda apa pun.
  • Pemasangan APAR harus sesuai dengan jenis benda / tempat yang dilindungi
  • Setiap APAR harus dipasang menggantung dan terlindung
  • Pemasangan APAR dengan ketinggian max. 1,2 mtr
  • Pemasangan APAR tidak boleh diruangan yang mempunyai suhu lebih dari 49º C dan di bawah 4º C

Persyaratan Teknis APAR :

  • Tabung harus dalam keadaan baik ( tidak berkarat )
  • Dilengkapi dengan etiket cara – cara penggunaan yang memuat urutan singkat dan jelas tentang cara penggunaannya
  • Segel harus dalam keadaan baik
  • Tidak ada kebocoran pada membran tabung gas tekanan tinggi ( Cartridge )
  • Slang harus dalam keadaan baik, tidak boleh ada retakan dan tahan tekanan tinggi.
  • APAR jenis busa / foam, tabung dalamnya tidak bocor serta lubang pengeluaran tidak tersumbat
  • Bahan baku pemadaman harus selalu dalam keadaan baik
  • Tutup tabung harus baik dan tertutup rapat
  • Warna tabung harus mudah dilihat sesuai dengan jenis APAR

APAR (Alat Pemadam Api Ringan) terdiri dari beberapa jenis, antara lain :

  1. Jenis Air (Water).

APAR jenis air terdapat dalam bentuk stored pressure type (tersimpan bertekanan) dan gas cartridge type (tabung gas). Sangat baik digunakan untuk pemadaman kebakaran kelas A.

  1. Jenis Busa (Foam).

Jenis busa adalah bahan pemadam api yang efektif untuk kebakaran dengan material utama minyak. Biasanya digunakan dari bahan tepung aluminium sulfat dan natrium bicarbonat yang keduanya dilarutkan dalam air. Hasilnya adalah busa yang volumenya mencapai 10 kali lipat. Pemadaman api oleh busa merupakan sistem isolasi, yaitu untuk mencegah oksigen untuk tidak ikut dalam reaksi rantai kimia.

  1. Jenis Tepung Kimia Kering (Dry Chemical Powder).

Jenis ini efektif untuk kebakaran kelas B dan C dan juga bisa kelas A. Tepung serbuk kimia kering berisi dua macam bahan kimia, yaitu Sodium Bicarboanat & Natrium Bicarbonat, Gas nitrogen sebagai pendorong. Khusus untuk pemadaman kelas D (logam) seperti Magnesium, Titanium, Zarcanium, dan lain-lain digunakan metal-dry powder yaitu campuran Sodium, Potasium, dan Barium Chloride.

  1. Jenis Halon.

APAR jenis ini efektif untuk menanggulangi kebakaran jenis cairan yang mudah terbakar dan peralatan listrik bertegangan (kebakaran kelas B dan C). Bahan pemadaman api gas Halon biasanya terdiri dari unsur-unsur kimia seperti chlorine, flourine, bromide dan iodine.

  1. Jenis CO2.

Bahan pemadam jenis CO2 efektif untuk memadamkan kebakaran kelas B (minyak) dan C (listrik). Berfungsi untuk mengurangi kadar oksigen dan efektif untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di dalam ruangan (indoor). Pemadaman dengan gas arang ini dapat mengurangi kadar oksigen sampai dibawah 12%.

Backdraft

By | Pengetahuan | No Comments

Backdraft adalah situasi yang dapat terjadi ketika produk kebakaran-gas yang kekurangan oksigen; sehingga pembakaran melambat (karena kurangnya oksigen) tetapi bahan bakar gas mudah terbakar (terutama CO) dan asap (terutama hidro-karbon bebas radikal dan partikel) tetap berada pada suhu di atas titik-api gas bahan bakar. Jika oksigen kembali diperkenalkan ke dalam api, misalnya dengan membuka pintu (atau jendela) ke ruangan tertutup, pembakaran akan restart, sering mengakibatkan efek ‘ledakan’ sebagai gas yang dipanaskan oleh pembakaran dan berkembang pesat karena suhu yang meningkat pesat (lihat juga flashover ).

tanda-tanda Karakteristik situasi backdraft termasuk asap kuning atau coklat, asap lubang kecil yang keluar dalam tiupan (semacam efek pernapasan) dan sering ditemukan di sekitar tepi pintu dan jendela, dan jendela yang muncul berwarna cokelat atau hitam bila dilihat dari bagian luar . Warna-warna gelap disebabkan oleh pembakaran tidak sempurna (lebih partikel dalam gelap gas mereka). Jika ruangan berisi banyak jelaga (partikel), ini menunjukkan bahwa ruangan tidak memiliki cukup oksigen untuk memungkinkan pembakaran dari partikel-partikel jelaga. Petugas pemadam kebakaran sering terlihat untuk melihat apakah ada jelaga di bagian dalam jendela dan di celah-celah di sekitar ruangan. Jendela mungkin telah retak karena panas. Jendela struktur juga mungkin memiliki getaran sedikit karena perbedaan tekanan yang bervariasi. Lingkungan sekitar (misalnya lorong di luar ruangan backdraft diduga) akan sangat panas.

Jika petugas pemadam kebakaran menemukan sebuah ruangan menarik udara ke dalam dirinya, misalnya melalui celah, mereka umumnya evakuasi segera, karena ini merupakan indikasi kuat bahwa backdraft adalah dekat. Karena perbedaan tekanan, ini gumpalan asap kadang-kadang “tersedot” kembali ke dalam ruang tertutup dari mana mereka berasal, yang mana “backdraft” istilah berasal.

Backdrafts situasi sangat berbahaya, sering petugas pemadam kebakaran mengejutkan, terlepas dari tingkat pengalaman. Taktik yang paling umum digunakan oleh petugas pemadam kebakaran dalam melepas mata rantai suatu backdraft potensial untuk ventilasi dari titik tertinggi, sehingga panas dan asap melarikan diri tanpa memicu eksplosif.

Teori Segitiga Api

By | Pengetahuan | No Comments

Api adalah oksidasi cepat terhadap suatu material dalam proses pembakaran kimiawi, yang menghasilkan panas, cahaya, dan berbagai hasil reaksi kimia lainnya. Api berupa energi berintensitas yang bervariasi dan memiliki bentuk cahaya (dengan panjang gelombang juga di luar spektrum visual sehingga dapat tidak terlihat oleh mata manusia) dan panas yang juga dapat menimbulkan asap.

Api (warnanya-dipengaruhi oleh intensitas cahayanya) biasanya digunakan untuk menentukan apakah suatu bahan bakar termasuk dalam tingkatan kombusi sehingga dapat digunakan untuk keperluan manusia (misal digunakan sebagai bahan bakar api unggun, perapian atau kompor gas) atau tingkat pembakar yang keras yang bersifat sangat penghancur, membakar dengan tak terkendali sehingga merugikan manusia (misal, pembakaran pada gedung, hutan, dan sebagainya).

Penemuan cara membuat api merupakan salah satu hal yang paling berguna bagi manusia, karena dengan api, golongan hominids (manusia dan kerabatnya seperti kera) dapat aman dari hewan buas, memasak makanan, dan mendapat sumber cahaya serta menjaga dirinya agar tetap hangat. Bahkan masih banyak masyarakat zaman sekarang tetapi terisolir, menganggap api adalah sumber kehidupan segala mahluk hidup.

Segitiga api adalah elemen-elemen pendukung terjadinya kebakaran dimana elemen tersebut adalah panas, bahan bakar dan oksigen. Namun dengan adanya ketiga elemen tersebut, kebakaran belum terjadi dan hanya menghasilkan pijar.
Untuk berlangsungnya suatu pembakaran, diperlukan komponen keempat, yaitu rantai reaksi kimia (chemical chain reaction). Teori ini dikenal sebagai Piramida Api atau Tetrahedron. Rantai reaksi kimia adalah peristiwa dimana ketiga elemen yang ada saling bereaksi secara kimiawi, sehingga yang dihasilkan bukan hanya pijar tetapi berupa nyala api atau peristiwa pembakaran.

CH4 + O2 + (x)panas —-> H2O + CO2 + (Y)panas

Tiga unsur Api

1. Oksigen
Sumber oksigen adalah dari udara, dimana dibutuhkan paling sedikit sekitar 15% volume oksigen dalam udara agar terjadi pembakaran. Udara normal di dalam atmosfir kita mengandung 21% volume oksigen. Ada beberapa bahan bakar yang mempunyai cukup banyak kandungan oksigen yang dapat mendukung terjadinya pembakaran

2. Panas
Sumber panas diperlukan untuk mencapai suhu penyalaan sehingga dapat mendukung terjadinya kebakaran. Sumber panas antara lain: panas matahari, permukaan yang panas, nyala terbuka, gesekan, reaksi kimia eksotermis, energi listrik, percikan api listrik, api las / potong, gas yang dikompresi

3. Bahan bakar
Bahan bakar adalah semua benda yang dapat mendukung terjadinya pembakaran. Ada tiga wujud bahan bakar, yaitu padat, cair dan gas.
Untuk benda padat dan cair dibutuhkan panas pendahuluan untuk mengubah seluruh atau sebagian darinya, ke bentuk gas agar dapat mendukung terjadinya pembakaran.

a) Benda Padat
Bahan bakar padat yang terbakar akan meninggalkan sisa berupa abu atau arang setelah selesai terbakar. Contohnya: kayu, batu bara, plastik, gula, lemak, kertas, kulit dan lain-lainnya.

b) Benda Cair
Bahan bakar cair contohnya: bensin, cat, minyak tanah, pernis, turpentine, lacquer, alkohol, olive oil, dan lainnya.

c) Benda Gas
Bahan bakar gas contohnya: gas alam, asetilen, propan, karbon monoksida, butan, dan lain-lainnya.

Rantai Reaksi Kimia
Dalam proses kebakaran terjadi rantai reaksi kimia, dimana setelah terjadi proses difusi antara oksigen dan uap bahan bakar, dilanjutkan dengan terjadinya penyalaan dan terus dipertahankan sebagai suatu reaksi kimia berantai, sehingga terjadi kebakaran yang berkelanjutan.

Flammable Range: adalah batas antara maksimum dan minimum konsentrasi campuran uap bahan bakar dan udara normal, yang dapat menyala/ meledak setiap saat bila diberi sumber panas. Di luar batas ini tidak akan terjadi kebakaran.

a) LEL / LFL (Low Explosive Limit/ Low Flammable Limit): adalah batas minimum dari konsentrasi campuran uap bahan bakar dan udara yang akan menyala atau meledak, bila diberi sumber nyala yang cukup. Kondisi ini disebut terlalu miskin kandungan uap bahan bakarnya (too lean).

b) UEL / UFL (Upper Explosive Limit/ Upper Flammable Limit): adalah batas maksimum dari konsentrasi campuran uap bahan bakar dan udara, yang akan menyala atau meledak, bila diberi sumber nyala yang cukup. Kondisi ini disebut terlalu kaya kandungan uap bahan bakarnya (too rich).